Tingginya angka penderita penyakit tidak menular di daerah agraris memicu lahirnya program Edukasi Diabetes Brebes. Mengingat pasar tradisional merupakan pusat aktivitas masyarakat yang paling padat, para calon tenaga medis memilih lokasi ini sebagai titik utama penyuluhan. Dalam kegiatan ini, mahasiswa cek gula darah gratis di pasar untuk memberikan akses deteksi dini bagi pedagang maupun pengunjung yang seringkali tidak memiliki waktu untuk pergi ke puskesmas. Langkah ini diambil guna memetakan risiko diabetes di kalangan warga Brebes, sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kadar gula darah guna menghindari komplikasi serius seperti kerusakan syaraf hingga penyakit jantung di masa depan.
Dalam pelaksanaan Edukasi Diabetes Brebes, para mahasiswa menyediakan stan khusus yang dilengkapi dengan alat tes digital yang akurat. Melalui aksi mahasiswa cek gula darah gratis di pasar, warga mendapatkan hasil pemeriksaan hanya dalam hitungan detik. Sambil menunggu hasil, mahasiswa aktif memberikan penjelasan mengenai gejala awal diabetes, seperti sering merasa haus, lapar, dan frekuensi buang air kecil yang meningkat di malam hari. Pendekatan yang dilakukan sangat membumi dengan menggunakan bahasa daerah agar pesan kesehatan mudah diserap oleh warga pasar. Edukasi ini menekankan pada perubahan gaya hidup, terutama pengurangan konsumsi gula dan pengaturan pola makan yang seimbang dengan aktivitas fisik harian.
Keunggulan dari program Edukasi Diabetes Brebes ini adalah pemberian rekomendasi tindak lanjut secara instan bagi mereka yang memiliki kadar gula darah di atas normal. Saat mahasiswa cek gula darah gratis di pasar menemukan warga dengan risiko tinggi, mereka langsung memberikan rujukan tertulis untuk segera memeriksakan diri secara komprehensif ke fasilitas kesehatan terdekat. Mahasiswa juga membagikan pamflet berisi daftar makanan lokal yang aman bagi penderita diabetes, yang sangat relevan dengan komoditas pertanian di Brebes. Inisiatif ini membuktikan bahwa pelayanan kesehatan primer dapat dilakukan dengan cara yang proaktif dan menjangkau masyarakat di tempat mereka beraktivitas sehari-hari tanpa membebani biaya sepeser pun.
Dukungan dari pengelola pasar dan dinas kesehatan setempat membuat Edukasi Diabetes Brebes berjalan dengan lancar dan tertib. Antusiasme warga untuk mengikuti pemeriksaan yang dipandu oleh mahasiswa cek gula darah gratis di pasar menunjukkan bahwa kesadaran akan kesehatan sebenarnya sangat tinggi jika aksesnya mudah dijangkau. Pengalaman lapangan ini menjadi pelajaran berharga bagi mahasiswa dalam membangun kemampuan komunikasi publik dan empati sosial. Keberhasilan program ini diharapkan dapat menekan angka mortalitas akibat diabetes di wilayah Brebes melalui pencegahan sejak dini.