Di era digital, media sosial sering kali dipenuhi dengan pesan-pesan yang menuntut kita untuk selalu berpikir positif. Namun, di balik seruan tersebut, tersembunyi sebuah fenomena yang disebut toxic positivity. Fenomena ini adalah sikap yang menolak atau mengabaikan emosi negatif, dan memaksakan pandangan optimis yang tidak realistis pada setiap situasi. Toxic positivity lebih berbahaya dari yang Anda kira karena bisa membuat seseorang merasa bersalah karena merasakan kesedihan, kemarahan, atau frustrasi. Kondisi ini bisa berujung pada penekanan emosi yang berlebihan, yang justru tidak sehat bagi mental.
Psikolog dan ahli kesehatan mental semakin gencar memberikan peringatan tentang bahaya toxic positivity. Mereka menjelaskan bahwa meniadakan emosi negatif tidak akan membuatnya hilang, tetapi justru menumpuk di dalam diri dan berpotensi memicu masalah kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi dan kecemasan. Menurut data dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia per 17 September 2025, sebanyak 75% pasien yang datang dengan masalah kecemasan sering kali tertekan karena merasa tidak boleh merasakan emosi negatif. Seorang psikolog klinis, Ibu dr. Aisyah Putri, M.Psi., dalam sebuah webinar pada hari Kamis, 18 September, mengatakan, “Kita perlu memahami bahwa semua emosi, baik positif maupun negatif, adalah bagian dari pengalaman manusia. Penting untuk mengakui dan memproses emosi negatif, bukan menghindarinya.”
Salah satu contoh paling umum dari toxic positivity adalah saat seseorang sedang berduka atau menghadapi kesulitan, lalu orang lain berkata, “Sudahlah, jangan sedih, kan masih banyak yang lebih parah.” Kalimat seperti ini tidak memberikan dukungan, tetapi justru membuat seseorang merasa emosinya tidak valid. Hal yang seharusnya dilakukan adalah memberikan ruang bagi emosi tersebut. Mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengatakan “Aku ada di sini untukmu,” jauh lebih menenangkan.
Meskipun toxic positivity tidak termasuk tindak pidana, pihak kepolisian menyadari dampaknya pada kesehatan mental. Kepala Bagian Psikologi Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polri, Kombes Pol. Anom Setyadji, menyatakan bahwa pihaknya telah mengadakan sesi konseling rutin untuk anggota yang mengalami tekanan kerja. “Kami mendorong anggota untuk berani mengungkapkan perasaan mereka dan mencari bantuan jika diperlukan. Menekan emosi negatif dapat mengganggu kinerja dan bahkan memicu masalah personal,” ujarnya pada hari Jumat, 19 September. Dengan demikian, mengenali dan menghindari toxic positivity adalah langkah penting menuju kesehatan mental yang lebih baik, di mana kita dapat menerima diri apa adanya, dengan segala emosi yang menyertainya.