Penemuan yang mengejutkan dalam penelitian mamalia laut menunjukkan bahwa lumba-lumba mungkin menderita Penyakit Mirip Alzheimer, suatu kondisi neurologis yang sebelumnya dianggap unik pada manusia. Analisis terhadap otak lumba-lumba yang terdampar, termasuk paus pilot bersirip panjang, mengungkap adanya penanda klasik penyakit Alzheimer, yaitu gumpalan protein beta-amyloid dan tau. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang kesehatan ekosistem laut. Kekhawatiran ini menunjukkan bahwa dampak krisis iklim meluas hingga ke fungsi kognitif makhluk hidup.
Para ilmuwan menduga bahwa salah satu pemicu utama munculnya Penyakit Mirip Alzheimer ini adalah peningkatan paparan terhadap racun lingkungan. Racun ini dipicu oleh perubahan iklim, terutama Harmful Algal Blooms (HABs) atau ledakan alga berbahaya. Pemanasan permukaan laut akibat krisis iklim menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan sianobakteri yang beracun. Lumba-lumba sebagai predator puncak, mengonsumsi ikan yang terkontaminasi oleh racun tersebut. Racun ini kemudian menumpuk di otak, memicu kerusakan saraf dan neurodegenerasi yang mirip demensia.
Penemuan tanda-tanda Penyakit Mirip demensia ini membantu menjelaskan mengapa lumba-lumba terkadang terdampar di pantai secara berkelompok. Salah satu teori yang diyakini peneliti adalah “Teori Pemimpin Sakit.” Teori tersebut menyatakan bahwa kawanan lumba-lumba yang sehat bisa mati di perairan dangkal karena secara naluriah mereka mengikuti pemimpin kelompok yang sedang sakit atau bingung. Lumba-lumba yang menderita disorientasi atau penurunan daya ingat akan kehilangan kemampuan navigasi. Hal ini fatal bagi keselamatan dirinya dan seluruh kawanannya.
Penelitian terhadap spesimen tua, termasuk lumba-lumba Risso yang diambil sampelnya pada sekitar tahun 2022-2023, menunjukkan adanya kerusakan saraf. Kerusakan ini menggarisbawahi lumba-lumba sebagai sentinel lingkungan. Mereka menjadi indikator dini bagi masalah kesehatan yang mungkin akan dihadapi manusia di masa depan. Toksin lingkungan yang memengaruhi otak lumba-lumba diduga juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang serupa pada populasi manusia. Penyakit Mirip ini menjadi peringatan mendesak bagi komunitas global untuk segera menangani pencemaran laut.
Tim peneliti, yang dipimpin oleh ahli neurologi komparatif, menyerukan studi lebih lanjut dan investasi dana riset. Tujuannya adalah untuk memahami sepenuhnya peran toksin alga dan kontaminan lain dalam penyakit otak mamalia laut ini. Data ini dapat membantu mengidentifikasi populasi manusia yang berisiko terhadap penyakit neurologis terkait lingkungan. Temuan pada lumba-lumba ini adalah alarm keras dari laut.
Dengan adanya temuan ini, jelas bahwa krisis iklim dan aktivitas manusia memiliki konsekuensi yang jauh melampaui naiknya permukaan air laut. Dampak tersebut menyentuh kesehatan biologis dan kognitif makhluk hidup lain. Perlindungan terhadap lingkungan laut bukan lagi hanya isu konservasi. Perlindungan lingkungan merupakan isu kesehatan global yang mendesak.