Pencegahan masalah gangguan pertumbuhan anak atau stunting memerlukan tindakan pemantauan status gizi yang cermat sejak masa kehamilan hingga usia balita. Dalam upaya mengasah keterampilan mahasiswa dalam melakukan skrining gizi masyarakat, kegiatan deteksi dini stunting disimulasikan secara komprehensif oleh mahasiswa ilmu gizi di balai desa. Kegiatan ini mengikutsertakan puluhan ibu hamil dan balita dari lingkungan setempat yang mendapatkan pemeriksaan tinggi badan, panjang badan, serta pengukuran lingkar lengan atas secara detail. Melalui bimbingan dosen spesialis gizi, para mahasiswa dilatih untuk mengenali sinyal awal keterlambatan pertumbuhan anak secara presisi berbasis grafik standar kesehatan.
Proses peragaan diawali dengan pencatatan riwayat asupan nutrisi harian ibu hamil dan pola pemberian ASI eksklusif pada bayi oleh para peserta praktikum. Mahasiswa menggunakan alat ukur panjang badan bayi berbahan kayu yang presisi untuk memastikan tidak ada kesalahan pengukuran milimeter yang krusial. Pelaksanaan kegiatan deteksi dini stunting ini mengajarkan mahasiswa pentingnya ketelitian data antropometri dalam menetapkan status gizi seorang anak di lapangan. Para ibu balita menyimak dengan cermat penjelasan mahasiswa mengenai arti angka-angka pengukuran pertumbuhan anak mereka pada kartu menuju sehat.
Setelah proses pengukuran fisik selesai, mahasiswa memberikan edukasi gizi secara pribadi bagi ibu-ibu yang balitanya terindikasi mengalami keterlambatan pertumbuhan grafik. Rekomendasi pemberian makanan tambahan kaya protein hewani seperti telur, ikan lokal, dan daging diajarkan secara rinci menggunakan contoh makanan asli. Pelaksanaan simulasi deteksi dini kesehatan anak ini terbukti meningkatkan pemahaman para orang tua mengenai pentingnya kevariasian menu makanan harian balita untuk mencegah masalah tengkes. Ibu-ibu peserta merasa sangat terbantu dengan adanya konsultasi gizi cuma-cuma yang ramah dan solutif di lokasi acara.
Sinergi antara mahasiswa gizi dan para kader Posyandu desa terjalin sangat erat sepanjang pelaksanaan simulasi pemeriksaan kesehatan anak tersebut. Mahasiswa melatih para kaderPosyandu cara menggunakan alat ukur antropometri digital terbaru dan cara menginput data tumbuh kembang ke dalam sistem informasi kesehatan terpadu. Pelatihan kader ini bertujuan agar kegiatan pemantauan gizi balita yang akurat dapat terus berlanjut secara mandiri oleh warga desa setelah program praktikum mahasiswa selesai. Kehadiran teknologi pencatatan digital ini mempermudah pelaporan kasus gizi ke puskesmas induk secara efisien.
Rangkaian simulasi diakhiri dengan evaluasi capaian pemeriksaan dan penyerahan paket bantuan makanan bergizi bagi balita yang membutuhkan perhatian khusus. Pihak pemerintah desa menyampaikan rasa terima kasih dan mengapresiasi tinggi kepedulian para mahasiswa gizi dalam membantu program penuntasan stunting di desa mereka. Keberhasilan pelaksanaan simulasi deteksi dini stunting ini diharapkan dapat mendongkrak kesadaran masyarakat Brebes akan pentingnya gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan. Diharapkan melalui kerja keras bersama ini, angka stunting anak di perdesaan dapat ditekan hingga mencapai target nol persen di masa depan.